Fatwa Dewan Hisbah [6]: Bolehkah Wakaf Diubah Status dan Fungsinya?

0
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
Sidang Dewan Hisbah Persis 26-27 Agustus 2015

Sidang Dewan Hisbah Persis 26-27 Agustus 2015

persisalamin – Pada hari kedua, Kamis 27 Agustus 2015, sidang Dewan Hisbah PP Persis akan membedah enam masalah tersisa, sebagai berikut:

  1. Alih Fungsi dan Alih Status Wakaf
  2. Hukum Istri Mewakafkan Harta Miliknya tanpa Sepengetahuan Suami
  3. Menggugat Wakaf karena tidak Sesuai Akad
  4. Mengulangi Ihrom dari Tan’im karena Ragu Sah dan Tidaknya Umroh
  5. Hukum Zakat Diinvestasikan
  6. Baca Al-Quran dengan Langgam selain Arab

Dalam gelar perkara pertama: “Alih Fungsi dan Alih Status Wakaf” yang dimulai sekitar pukul 08.00 WIB itu, menghadirkan KH.Aceng Zakaria, sebagai pemakalah, dengan moderator KH. Zae Nandang.

KH.Aceng Zakaria, memaparkan pokok-pokok pikirannya sebagai berikut:

Pertama, Definisi Wakaf

Dengan merujuk penjelasan Sayyid Sabiq, dalam kitab Fiqhus Sunnah, dan Abdullah Ali Bassam, dalam kitab Tawdhih al-Ahkam, menurut KH.Aceng, “Waqaf menurut bahasa berarti menahan.” Sementara menurut syara’ ialah menahan ashalnya (harta pokoknya) dan mendermakan hasilnya, atau menahan harta asalnya dan menyalurkan manfaatnya untuk fi sabilillah.”

وَقِيْلَ؛ حَبْسُ مَالِكٍ مَالَهُ الْمُنْتَفَعُ بِهِ مَعَ بَقَاءِ عَيْنِهِ عَنِ التَّصَرُّفَاتِ بِرَقَبَتِهِ وَتَسْبِيْلُ مَنْفَعَتِهِ عَلَى شَيْئٍ مِنْ أَنْوَاعِ الْقُرَبِ اِبْتَغَاءَ وَجْهِ اللهِ

Dikatakan, waqaf ialah seorang pemilik harta menahan hartanya yang bermanfaat dengan tetap dzatnya (harta asalnya) dari memberdayakan statusnya dan mendermakan manfaatnya atas sesuatu dari pelbagai macam qurbah demi mengharap ridha Allah.” (Lihat, Taudhîh al-Ahkâm, 5: 97)

Kedua, Hadîts-hadîts tentang Waqaf

Dengan merujuk kepada sejumlah hadis, antara lain:

عَنْ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَصَابَ عُمَرُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ فَأَتَى اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَسْتَأْمِرُهُ فِيهَا فَقَالَ يَا رَسُولَ اَللَّهِ إِنِّي أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ هُوَ أَنْفَسُ عِنْدِي مِنْه ُ قَالَ إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا قَالَ فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يُبَاعُ أَصْلُهَا وَلَا يُورَثُ وَلَا يُوهَبُ فَتَصَدَّقَ بِهَا فِي اَلْفُقَرَاءِ وَفِي اَلْقُرْبَى وَفِي اَلرِّقَابِ وَفِي سَبِيلِ اَللَّهِ وَابْنِ اَلسَّبِيلِ وَالضَّيْفِ لَا جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ وَيُطْعِمَ صَدِيقاً غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ مَالًا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ

Dari Ibnu ‘Umar Ra, ia berkata, “Umar telah mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, kemudian ia datang kepada Nabi untuk meminta nasihat darinya tentang tanah itu. Maka Umar berkata, ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mendapatkan sebidang tanah di Khaibar yang tidak pernah aku mendapatkan tanah sebaik itu menurutku.’ Maka Nabi saw. Bersabda, ‘Jika engkau mau, waqafkanlah pokoknya dan sedekahkanlah hasilnya.’ Ibnu Umar berkata, ‘Maka Umar mewaqafkan tanah itu dengan syarat-syarat; tidak boleh diwariskan dan dihibahkan.’ Lalu Umar waqafkan tanah itu dan hasilnya untuk kepentingan orang yang fakir, kerabat dekat, hamba sahaya, sabilillâh, ibnu sabil dan tamu-tamu, tidak berdosa orang yang mengurusnya memakan darinya dengan cara yang baik dan memberi makan shahabat dengan syarat tidak menjualnya’.” HR. al-Bukhâri dan Muslim, dan hadîts ini lafadz atau redaksi Muslim.

KH.Aceng menyatakan bahwa pada hadîts tersebut di atas terdapat beberapa kandungan, di antaranya:

  1. Umar mendapatkan tanah yang baik di Khaibar, kemudian Umar meminta saran kepada Nabi saw. tentang tanah itu.
  2. Nabi saw. menyarankan untuk mewaqafkan tanah itu dengan catatan; tidak dijual pokoknya, tidak diwariskan dan tidak dihibahkan tetapi disedekahkan hasilnya.
  3. Penyaluran hasil waqaf bisa untuk kebutuhan orang yang faqir, kerabat dekat, hamba sahaya, sabilillah, ibnu sabil dan para tamu.
  4. Pengelola waqaf boleh memakan hasil waqaf atau memberi makan shahabat dengan catatan tidak untuk memperkaya diri.

Ketiga, Ketentuan-ketentuan Waqaf

Menurut KH. Aceng, ada beberapa ketentuan tentang waqaf, di antaranya:

  • Hukum waqaf tidak wajib tetapi berupa anjuran saja, berarti sunnat.
    Waqaf hendaklah berupa benda atau barang yang dapat dimanfaatkan dan tidak akan hilang barang pokoknya.
  • Barang waqaf tidak boleh dijual, diwariskan dan dihibahkan karena dengan itu akan hilang harta pokoknya dan akan berpindah tangan kepemilikan.
  • Hasil waqaf dapat disalurkan untuk kepentingan umum atau fi sabilillah.
  • Pengelola waqaf boleh memakan hasil waqaf dengan cara yang ma’ruf, dengan catatan tidak untuk memperkaya diri.
  • Waqif boleh mencabut waqafnya jika ternyata waqaf itu tidak digunakan sebagaimana kehendak si waqif.
  • Waqif tidak boleh mengambil waqafnya dan dijadikan lagi milik pribadi, karena hal itu sama dengan “anjing yang muntah dan memakan lagi mun-tahannya”.
  • Barang-barang waqaf tidak harus dikeluarkan zakatnya, merujuk kepada kasus Khalid bin Walid, sebagai dijelaskan dalam hadis Abu Hurairah Ra, bahwa “Rasulullah saw. telah mengutus Umar untuk mengambil zakat. Adapun Khalid, maka ia telah mewaqafkan baju-baju besinya dan perabot-perabot perangnya di jalan Allah.” HR. al-Bukhâri dan Muslim

Keempat, alih Status dan alih fungsi waqaf

Mengacu kepada hadis

أَنَّهُ لَا يُبَاعُ أَصْلُهَا وَلَا يُوْرَثُ وَلَا يُوْهَبُ -متفق عليه

“Bahwa tidak boleh dijual pokoknya, tidak diwariskan dan tidak dihibahkan.” HR. al-Bukhâri dan Muslim

KH. Aceng menyatakan bahwa pada dasarnya waqaf itu tidak boleh dijual, dihibahkan dan diwariskan. Meski demikian, menurut beliau, para ulama berpendapat, jika fungsi satu mesjid sudah kurang manfaat dan lebih baik dipindahkan ke tempat yang lebih strategis untuk lebih memakmurkan mesjid, maka tidak apa-apa mesjid dan tanahnya yang pertama dijual untuk membangun mesjid yang baru yang lebih baik dan lebih strategis, karena pada dasarnya nilai waqafnya tidak hilang.

Kebolehan ini, menurut KH.Aceng, merujuk kepada amal Umar, di mana Umar telah memindahkan mesjid Kuffah yang lama ke tempat yang lain, sedang bekas mesjid yang pertama dijadikan pasar kurma, dan perbuatan ‘Umar itu tidak mendapatkan kritikan dari shahâbat yang lain. Demikian juga jika mesjid itu dialihfungsikan menjadi madrasah atau asrama santri, tentu saja tidak terlarang, kemudian mesjid dipindahkan ke tempat yang lebih strategis, itupun kalau disetujui oleh orang yang mewaqafkannya.

Untuk mempertajam pandangan KH.Aceng Zakaria, moderator tema pertama di hari kedua ini, KH.Zae Nandang, memberikan kesempatan kepada para anggota Dewan Hisbah untuk menyampaikan pandangannya.

Setelah dilakukan diskusi dan penilaian dari para anggota Dewan Hisbah tentang masalah ini: “Alih Fungsi dan Alih Status Wakaf” akhirnya Dewan Hisbah PP. Persatuan Islam menetapkan hukum (beristinbath) sebagai berikut:

  1. Mengubah status wakaf hukumnya haram
  2. Alih fungsi wakaf selama tidak mengurangi aslinya dan dapat memperbesar manfaat fi sabilillah dan kemashlahatan umum hukumnya mubah
  3. wakaf muqayad boleh dialihfungsikan berdasarkan kesepakatan dengan wakif

Demikian keputusan sidang Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut.

[Sumber: sigabah.com/beta]

Print Friendly
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Share.

Leave A Reply