Lanjutkan Perjuangan M. Natsir!

0
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
M. Natsir

M. Natsir

persisalamin – Pasca merdeka dari cengkraman Belanda dan Jepang, bangsa Indonesia disibukkan dengan menyusun dasar negara. Partai dan kelompok besar saat itu, seperti Masyumi dan PKI  yang masing-masing mewakili aliran kanan dan kiri, berusaha keras untuk menjadikan ideologi kelompoknya sebagai dasar negara Republik Indonesia. Perumusan dasar negara itu kemudian dibahas dalam forum yang disebut sidang PPKI. Sejumlah tokoh yang mewakili kelompoknya menyampaikan gagasannya terkait dengan dasar negara.

Salah satu tokoh dimaksud adalah Mochammad Natsir atau yang lebih populer dengan M. Natsir, tokoh besar yang menggawangi Partai Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia). Dalam beberapa sidang itu, M. Natsir banyak memberikan gagasan soal dasar negera. Tak jauh beda dari pandangan Soekarno dan tokoh-tokoh nasional lainnya, sebagaimana telah merumuskan dasar negara yang menghasilkan pancasila, M. Natsir menegaskan bahwa pancasila mengandung spirit Islam. Hal itu menurutnya terutama tercermin dari sila pertama; Ketuhanan Yang Maha Esa.

Natsir beranggapan, pancasila terutama sila pertama akan mengantarkan Indonesia menjadi bangsa yang besar dan makmur, dengan catatan pancasila ditegakkan sejalan dengan Islam. Natsir menilai poin-poin yang terkandung dalam pancasila sama sekali tidak bertentangan dengan Islam, dan karenanya semangaat pancasila harus benar-benar dilaksanakan.

Akan tetapi dalam beberapa sidang berikutnya, pandangan M. Natsir soal dasar negara mengalami perubahan. Ia pun dalam beberapa pidatonya di forum itu menyampaikan pentingnya menjadikan Islam sebagai dasar negara. Natsir, dengam tegas menghendaki adanya perubahan dasar negara dari pancasila menjadi Islam. Perubahan sikap Natsir ini, menurut Deliar Noer, karena Natsir paham betul bahwa pancasila pada gilirannya oleh kelompok nasionalis sekular dijadikan alat untuk melegeitimasi sistem sekular. Dan karenanya, Indonesia berpotensi menjadi negara sekular yang jauh dari spirit Islam.

Kekhawatiran Natsir itu muncul terutama setelah Soekarno menyampaikan pidato yang menyebut bahwa agama hanya dibutuhkan pada kondisi tertentu. Pidato Soekarno itu berkesimpulan bahwa negara dalam menjalankan perannya tidak membutuhkan wahyu. Pidato Soekarno itulah yang  menimbulkan kekhawatiran kuat pada Natsir dan tokoh-tokoh Masyumi. Bahwa jika Indonesia tetap berasaskan pancasila, maka Indonesia akan jauh dari nilai-nilai Islam.

Upaya Natsir yang menyampaikan pidato dan gagasannya untuk mengganti dasar negara dari pancasila menjadi Islam mendapat tantangan kuat dari kelompok nasionalis sekular. Aliran sosialis dan komunis waktu itu menolak gagasan yang disampaikan Natsir. Polemik antara kedua kelompok pun berlangsung cukup panas. Keduanya bersikukuh pada pandangan dan gagasannya masing-masing.

Polemik itu, yang terjadi antara aliran kanan yang diwakili Masyumi, dan aliran kiri yang diwakili oleh PKI, mendorong Soekarno mengambil langkah penting, yaitu keluarnya Dekrit Presiden pada 5 Juli. Majelis Konstituante yang berisi tokoh-tokoh Islam dan sedikit tokoh nasionalis, secara resmi dibubarkan. Dasar negara ditetapkan menggunakan UUD 45 yang dinilai menjiwai Piagam Jakarta.  Akibat dekrit itu, kelompok Islam pun tak dapat bergerak leluasa, dan karenanya gagasan-gagasan yang disampaikan Natsir yang menghendaki Islam sebagai dasar negara menguap.

Dengan gaya yang diplomatis, Soekarno saat megeluarkan dekrit 5 Juli menyampaikan, bahwa dasar negara yang digunakan waktu itu, pancasila, hanyalah dasar negara sementara karena menurutnya kondisi negara dalam darurat. Ke depannya, kata Soekarno, rumusan dasar negara akan diperbaiki dengan mempertimbangkan gagasan-gagasan yang disampaikan Natsir. Akan tetapi, hingga hari ini, pernyataan Soekarno tak pernah direalisasikan. Pancasila hingga saat ini masih ditetapkan sebagai dasar negara Republik Indonesia.

Dekrit Presiden yang dikeluarkan Soekarno waktu itu, oleh sebagian orang dianggap sebagai puncak kegagalan tokoh-tokoh Islam termasuk M. Natsir dalam menjadikan Islam sebagai dasar negara. Karena kegagalan inilah, konon, M. Natsir ditegur keras oleh gurunya, A. Hassan yang menghendaki Indonesia berasaskan Islam.

Meski demikian, upaya M. Natsir melalui Masyumi yang mengusulkan Islam sebagai dasar negara, walaupun pada akhirnya ditolak, dalam pandangan para politisi menjadi upaya penting. Karena upaya itu, aliran kiri seperti PKI terkunci langkahnya yang beruasha menjadikan ideologi sosial dan komunis sebagai dasar negara Republik Indonesia.

M. Natsir telah berusaha keras untuk menjadikan Indonesia sebagai negara berasaskan Islam. Namun kondisi negara yang terbilang masih muda karena baru merdeka, memaksa Natsir melupakan cita-citanya itu. Sebagai kawan seperjuangan, Soekarno sebenarnya sepakat dengan gagasan Natsir untuk menjadikan Islam sebagai dasar negara. Itulah sebabnya Soekarno mengatakan, dasar negara akan kembali dirumuskan dan diperbaiki jika negara sudah benar-benar stabil. Kini negara sudah berdiri kokoh dan stabil. Usaha dan cita-cita umat Islam yang diwakili M Natsir kala itu, harus dilanjutkan umat Islam hari ini.

Print Friendly
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Share.

Leave A Reply