Toleransi Yang Dimanipulasi

0
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
ilustrasi

ilustrasi

persisalamin – Kasus penyitaan barang dagangan Saeni oleh satpol PP di Serang, Banten, karena buka di siang hari di bulan Ramadhan menjadi topik yang terus diperbincangkan. Media pun tak bosan-bosan menampilkan kesan Saeni yang teraniaya atas tindakan satpol PP tersebut. Hasilnya, imbauan untuk menumbuhkan toleransi terus diserukan banyak tokoh. Celakanya, imbauan untuk saling menghormati justru dilakukan dengan pola terbalik. Umat Islam yang menjalankan ibadah saum justru diminta untuk menghormati orang yang tidak saum.

Wakil Presiden Jusuf Kalla, nimbrung mengimbau umat Islam yang saum untuk menghormati orang yang tidak menjalankan saum. Teranyar, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Luhut Binsar Panjaitan, dalam akun resminya turut meramaikan kasus Saeni. Dia mencontohkan toleransi yang ditunjukkan prajuritnya saat bertugas padahal sedang saum. Dia berharap pengalamannya itu menjadi contoh bagi umat Islam untuk menghormati orang yang tidak saum.

Tak hanya itu, pemberitaan dengan motif menyudutkan Islam yang demikian massif berbuah pada dicabutnya Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur aktivitas umat Islam. Padahal, perda diterbitkan guna mendukung ibadah umat Islam yang sama-sama memiliki hak dan kebebasan untuk menjalankan ajaran agamanya.

Jika pemerintah benar-benar berkomitmen untuk menumbuhkan toleransi pada rakyat Indonesia, maka hal itu harus dilakukan secara proporsional dan dengan prinsip keadilan, serta yang lebih penting adalah kejujuran. Diterbitkannya perda Ramadhan adalah bagian dari upaya untuk mendukung kekhusyuan ibadah umat Islam. Karenanya, jika pemerintah membatalkan perda Ramadhan  Serang adalah tindakan diskriminatif.

Harus diakui, sikap pemerintah yang mengimbau rakyat untuk saling menghormati mengabaikan hak umat Islam. Di satu sisi umat Islam diminta untuk menghormati pihak lain, tapi di sisi lain pihak lain dibebaskan untuk tidak menghormati umat Islam. Pun demikian dicabutnya perda Ramadhan oleh pemerintah,menunjukkan pemerintah antipati terhadap Islam.

Dengan nalar yang sangat sederhana pun dapat dinilai, pemerintah saat ini tengah mempraktikkan politik belah bambu; mengangkat satu pihak, pada saat yang sama menginjak pihak lainnya. Dalam politik tersebut, umat Islam ditempatkan pada posisi yang diinjak, sementara kelompok minoritas ditempatkan pada posisi yang diangkat.

Semangat toleransi yang tengah dikembangkan bangsa Indonesia harus dihormati semua pihak, tak terkecuali pemerintah. Bagaimanapun, sikap toleransi telah ditunjukkan umat Islam dengan sangat baik. Adalah tindakan yang konyol, jika pemerintah gemar memanipulasi toleransi. (IK/0428)

Print Friendly
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Share.

Leave A Reply