Siapa Aktor di Balik Safari Jokowi?

0
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
Presiden Joko Widodo (kedua kanan) dan Wapres Jusuf Kalla (kanan) berbincang dengan Menko Polhukam Luhut Pandjaitan (kedua kiri) dan Seskab Pramono Anung (kiri)

Presiden Joko Widodo (kedua kanan) dan Wapres Jusuf Kalla (kanan)

persisalamin – Dalam dua minggu terakhir, Presiden Joko Widodo mempertontonkan tindakan yang tak lazim. Langkah-langkahnya dia tempuh seiring dengan makin derasnya tuntutan rakyat agar Ahok yang menistakan Al-Qur’an segera ditangkap dan diadili. Alih alih bersikap dan meminta aparat bertindak cepat dan tegas, Jokowi malah hanyut dalam skenario yang dimainkan the real president.

Pada tanggal 31 Oktober 2016, Jokowi melakukan kunjungan ke kediaman Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto di Hambalang Bogor, Jawa Barat. Dia berharap langkahnya itu akan meredam dan dapat membatalkan rencana Aksi Damai Bela Islam 4 November. Namun sayang, kunjungan tersebut tak sedikitpun berdampak apalagi mengendurkan girah rakyat untuk menuntut keadilan. Aksi 4 November tetap digelar bahkan diikuti massa dengan jumlah lebih besar dari perkiraan.

Pada tanggal 4 November 2016, Jokowi meninggalkan istana tanpa agenda kerja yang jelas. Padahal pada saat yang sama, lebih dari satu juta rakyat bertandang ke komplek istana hendak bertemu dengan sang presiden. Dus, niat rakyat yang hendak bertemu pemimpinya pun tak dapat dipenuhi. Lalu dengan alasan yang dibuat-buat bahkan sesekali plin plan, Jokowi berkelakar tak dapat datang ke istana. Langkah ini, membuat tingkat kepercayaan rakyat terhadap Presiden Jokowi semakin tergerus.

Selang beberapa hari pasca aksi 4 November, tanggal 7 November Jokowi menyambangi Kantor NU di Jalan Kramat Raya no 104. Sehari setelahnya, dia juga sowan ke Kantor Pusat Muhammadiyah. Harapan yang dibawanya adalah pimpinan kedua ormas itu mencegah umat Islam untuk tidak menuntut keadilan. Sayang, kedua pimpinan ormas Islam itu tak dapat mengamini Jokowi.

Seakan dikejar deadline, tanggal 9 November presiden mengundang pimpinan ormas Islam ke istana. Tujuannya masih sama, meminta agar massa sejumlah ormas Islam itu tidak melakukan aksi bela Islam. Merasa tidak puas, pada 10 November presiden juga mengundang para ulama dan kyai ke istana. Pesan yang disampaikannya masih sama; membendung aksi bela Islam. Namun konyol, istana justru tidak mengundang para ulama yang memimpin aksi damai 4 November itu. Langkah ini semakin mempertegas langah Jokowi yang ingin membenturkan umat Islam.

Tak hanya itu, Jokowi juga bertandang ke markas beberapa satuan elit TNI, termasuk Kopassus. Kunjungannya ke markas tentara elit itu diakuinya untuk memastikan loyalitas militer kepadanya sebagai panglima tertinggi. Bahkan dia menggertak rakyat dengan mengatakan akan menurunkan pasukan elit itu jika rakyat dianggap Jokowi mengusik tahtanya.

Rangkaian langkah Jokowi itu mengundang sejumlah spekulasi. Ada yang menyebut, Jokowi sudah kehilangan akal untuk melindungi Ahok. Dugaan lain menyebut, Jokowi khawatir bakal ditumbangkan rakyatnya. Sementara pihak mengatakan, Jokowi tengah panik makarnya bakal terbongkar, dan berbagai hipotesa lainnya.

Dari sederet dugaan itu, ada tanda tanya besar tentang langkah-langkah yang dilakukan Jokowi. Benarkah Jokowi yang berinisiatif untuk melakukan safari yang cukup menyita perhatian rakyat? Bahkan dia berani menggertak rakyat dengan memamerkan pasukan elit, benarkah dia takut ditumbangkan rakyatnya? Seberani itukah Jokowi terhadap rakyatnya?

Sebagai presiden, Jokowi tidak dapat mengambil keputusannya sendiri, termasuk dalam menghadapi tuntutan rakyatnya. Dia membutuhkan masukan dari berbagai pihak, istimewa dari para pembantunya di istana. Sayang seribu sayang, pembantu di istana itu bukanlah pejabat yang mencintai rakyat dan negerinya. Karakter rakus akan jabatan, berambisi mengatur negara namun tak becus dan tak memiliki pamor layaknya pemimpin, adalah sosok yang berada di balik Jokowi. Karakter seperti ini hanya berbekal ambisi dan kepicikan. Fatalnya, justru karakter inilah yang selama ini mengatur dan mengendalikan negara. Dialah aktor di balik langkah-langkah konyol Jokowi. Sedangkan Jokowi, sebagaimana sering disematkan rakyat kepadanya, hanyalah presiden boneka yang sangat mudah dikendalikan. Lalu, siapakah aktor itu?

Print Friendly
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Share.

Leave A Reply