Nashruddin Syarief : Dasar Aqidah Syi’ah “Menghina Sahabat”

0
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

aqidah-syiahpersisalamin – Syi’ah arti asalnya ‘kelompok’. Syi’ah menyatakan dirinya sebagai Syi’ah ‘Ali dan Ahlul-Bait. Maka dari itu, Jalaluddin Rakhmat misalnya mempopulerkan istilah Madzhab Ahlul Bait, sebagai istilah baru bagi Syi’ah yang sudah kadung dipersepsikan negatif di Indonesia.[1]

Syi’ah itu sendiri, menurut as-Syahrastani adalah kelompok yang fanatik kepada ‘Ali dan menyatakan bahwa ‘Ali adalah satu-satunya khalifah dan imam pengganti Rasulullah saw. Hak khilafah untuk ‘Ali ini berlaku juga untuk keturunan-keturunannya. Kalaupun di antara mereka ada yang tidak menjadi khalifah maka itu disebabkan dizhalimi oleh pihak lain atau taqiyyah dari para imam tersebut. Imamah bagi Syi’ah bukan dipilih oleh umat, melainkan wasiat dari Nabi saw untuk ‘Ali dan keturunannya.[2]

Nama lainnya adalah Rafidlah, arti asalnya meninggalkan. Ditujukan kepada Syi’ah yang terang-terangan menolak ajakan Zaid ibn ‘Ali ibn al-Husain ibn ‘Ali untuk mengakui kekhalifahan Abu Bakar dan ‘Umar dan jangan menghina kedua shahabat tersebut. Akan tetapi kelompok ini tetap dengan pendapatnya bahwa kedua shahabat tersebut tercela, bahkan menyamaratakannya kepada semua shahabat. Dari sejak itulah, Rafidlah dikenal sebagai nama lain dari Syi’ah, dan mulai tersebar penamaan ini pada tahun 122 H.[3]

Konsekuensi dari keyakinan bahwa ‘Ali dan keturunannya yang berhak menjadi khalifah adalah membenci dan menghina para shahabat radliyal-‘Llahu ‘anhum secara keseluruhan karena diyakini sudah merampas atau membiarkan perampasan hak khilafah dari ‘Ali dan keturunannya. Padahal shahabat adalah sumber ilmu. Ilmu dari Nabi saw tentang al-Qur`an, sunnah, dan semua aspek ajaran Islam, salurannya melalui shahabat radliyal-‘Llahu ‘anhum. Ketika shahabat tidak diakui otoritasnya, maka otomatis Syi’ah meninggalkan sunnah, menyimpang dalam memahami al-Qur`an, Islam, dan terjebak pada bid’ah-bid’ah yang mereka buat sendiri. Inilah yang dimaksud dasar aqidah Syi’ah dalam tulisan ini.

Dr. Nashir ibn ‘Ali ‘Aidl Hasan dalam salah satu kitabnya, ‘Aqidah Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah fis-Shahabah al-Kiram, menguraikan penghinaan-penghinaan Syi’ah kepada para shahabat sebagai berikut:

Pertama, meyakini sebagian besar para shahabat sudah murtad. Al-Kulaini misalnya meriwayatkan pernyataan Abu Ja’far:

اِرْتَدَّ النَّاسُ بَعْدَ النَّبِيِّ r إِلاَّ ثَلاَثَةً وَهُمُ الْمِقْدَادُ وَسَلْمَانُ وَأَبُوْ ذَرٍّ

Orang-orang murtad sesudah Nabi saw (wafat) kecuali tiga orang yaitu Miqdad, Salman dan Abu Dzar.[4]

Al-Kulaini, sebagaimana dijelaskan dalam kitab biografi tokoh Syi’ah, adalah seorang tokoh besar yang pendapatnya bisa dijadikan rujukan, seorang yang paling tsiqah (terpercaya) dan tsabit (kuat) dalam hadits (autsaqun-nas fil-hadits wa atsbatuhum), dan telah menyusun kitab hadits al-Kafi selama 20 tahun. Meninggal di Badghdad pada tahun 328 H.[5] Kitabnya, al-Ushul minal-Kafi atau lebih dikenal al-Kafi merupakan kitab hadits utama bagi sekte Syi’ah yang berisi 16.990 hadits. Kitabnya ini merupakan kitab rujukan utama bagi Syi’ah di samping tiga kitab lainnya, yaitu: Man La Yahdluruhul-Faqih berisi 5963 hadits, al-Istibshar berisi 5511 hadits, at-Tahdzib berisi 13590 hadits.[6] Artinya, pendapat murtadnya shahabat ini sudah menjadi keyakinan utama karena berdasar pada riwayat-riwayat yang shahih menurut Syi’ah.

Di antara dalil hadits shahih dari kitab Ahlus-Sunnah yang dijadikan dasar keyakinan murtadnya shahabat ini adalah hadits berikut:

“… Lalu ada segolongan dari sahabatku yang akan diculik dari arah kiri lalu aku katakan: “Itu shahabatku, itu shahabatku”. Maka Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya mereka menjadi murtad sepeninggal kamu”. Aku pun berkata sebagaimana ucapan hamba yang shalih (dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana [QS. Al-Ma`idah [5] : 117-118]).[7]

Konsekuensinya, dalam hal periwayatan agama (tafsir dan hadits), para shahabat tidak bisa dijadikan rujukan. Syarafuddin al-Musawi, salah seorang tokoh Syi’ah, misalnya menyatakan tidak setuju jika semua shahabat dinilai ‘adil (berakhlaq mulia dan bisa dipercaya sebagai rujukan agama): “Pendapat bahwa shahabat semuanya adil sama sekali tidak ada dalilnya. Seandainya al-Qur`an dikaji pasti akan ditemukan ayat-ayat yang menyebut ada orang-orang munafiq di antara shahabat. dalam hal ini surat at-Taubah dan al-Ahzab sudah cukup menginformasikannya.”[8]

Murtadla al-‘Askari, tokoh Syi’ah lainnya, mengatakan: “Dalam hal ‘adalah/’adil, kami memandang bahwa shahabat itu ada yang mukmin adil berbakti lagi bertaqwa sebagaimana sanjungannya ditemukan dalam al-Qur`an, tetapi jelas juga ada di antara mereka yang munafiq sesuai firman-Nya: Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka (QS. at-Taubah [9] : 101).[9]

Kedua, para shahabat menurut Syi’ah adalah orang-orang yang berani meninggalkan Rasulullah saw ketika beliau berkhutbah Jum’at karena mendahulukan kepentingan dunia. Ini diabadikan dalam firman-Nya:

Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki.[10]

Ketiga, para shahabat juga orang-orang yang berani melarikan diri dari medan perang, tepatnya perang Uhud dan Hunain. Padahal perbuatan tersebut termasuk dosa besar yang tujuh dan dilarang tegas oleh Allah swt dalam QS. al-Anfal [8] : 15. Dua ayat al-Qur`an menginformasikan perbuatan bejat para shahabat tersebut dalam QS. Ali ‘Imran [3] : 155 dan at-Taubah [9] : 25-26.[11]

Keempat, shahabat disebut oleh Rasulullah saw sebagai orang-orang yang gila dunia.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ عَنْ رَسُولِ اللهِ r أَنَّهُ قَالَ إِذَا فُتِحَتْ عَلَيْكُمْ فَارِسُ وَالرُّومُ أَىُّ قَوْمٍ أَنْتُمْ. قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ نَقُولُ كَمَا أَمَرَنَا اللهُ قَالَ رَسُولُ اللهِ r أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ تَتَنَافَسُونَ ثُمَّ تَتَحَاسَدُونَ ثُمَّ تَتَدَابَرُونَ ثُمَّ تَتَبَاغَضُونَ أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ ثُمَّ تَنْطَلِقُونَ فِى مَسَاكِينِ الْمُهَاجِرِينَ فَتَجْعَلُونَ بَعْضَهُمْ عَلَى رِقَابِ بَعْضٍ

Dari ‘Abdullah ibn ‘Amr ibn al-‘Ash, dari Rasulullah saw, bahwasanya beliau bersabda: “Apabila Persia dan Romawi dikalahkan untuk kalian, kaum yang seperti apakah kalian?” ‘Abdurrahman ibn ‘Auf menjawab: “Kami akan melakukan pada yang telah diperintahkan Allah.” Rasulullah saw menimpali: “Ataukah tidak seperti itu; kalian saling berlomba dunia, kemudian saling hasud, kemudian saling membelakangi, kemudian saling benci, atau semacamnya, kemudian kalian pergi ke tempat orang-orang miskin Muhajirin, lalu kalian mengangkat sebagian mereka sebagai pemimpin untuk sebagiannya.”[12]

Kelima, shahabat adalah orang yang sudah menyakiti ‘Ali karena tidak memberinya hak khalifah. Padahal Nabi saw bersabda:

مَنْ آذَى عَلِيًّا فَقَدْ آذَانِي

Siapa yang menyakiti ‘Ali maka sungguh ia telah menyakitiku.[13]

Bantahan dan Kritik

Menyebut para shahabat sebagian besarnya murtad jelas melanggar prinsip ajaran Islam yang menjamin shahabat teguh dalam kebenaran, teguh dalam sunnah dan menjauhi bid’ah.[14] Ayat-ayat al-Qur`an banyak yang menyebutkan dengan tegas jaminan tersebut, di antaranya:

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.[15]

Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang Ansar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka,[16]

(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan (keberatan) dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.[17]

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.[18]

Ayat-ayat di atas memang tidak sampai menjamin ‘ishmah (terbebas dari dosa) para shahabat. Akan tetapi ayat di atas jelas menjamin bahwa dalam urusan berkorban demi agama, memperjuangkan dan mempertahankan agama, para shahabat sudah terjamin kejujuran dan loyalitasnya. Maka dari itu qaidah yang dirumuskan Ahlus-Sunnah bukan “Para shahabat semuanya ma’shum”, tetapi “Para shahabat semuanya ‘adil”. ‘Adil itu konteksnya kejujuran dalam menjaga dan mengajarkan agama. Dan dari qaidah ini yang dituju as-Shahabah; shahabat secara keseluruhan. Artinya tidak mustahil ada orang perorang shahabat yang berbuat keliru dan salah, tetapi mustahil shahabat yang lain membiarkannya tanpa amar ma’ruf nahyi munkar. Sehingga dari fakta ini diketahui bahwa jika ada sesuatu terjadi di zaman shahabat yang diketahui tidak ada pengingkaran dari sesama shahabat, maka itu pertanda shahabat secara keseluruhan menyetujuinya (ijma’ sukuti). Persetujuan shahabat itu pertanda kebenaran, sebab mustahil shahabat menyetujui kesalahan. Di sinilah berlakunya qaidah: “Para shahabat semuanya ‘adil”.

Firman Allah swt dalam QS. At-Taubah [9] : 117: “Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang Ansar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan,” menunjukkan bahwa para shahabat adakalanya keliru dan bersalah. Akan tetapi secara keseluruhan sudah diterima taubatnya. Ayat ini turun setelah selesai perang Tabuk tahun 9 H, peperangan terakhir Nabi saw dan para shahabat, jauh sesudah perang Uhud dan dan satu tahun sesudah perang Hunain. Apalagi jika diukurkan pada peristiwa awal Jum’atan sebagaimana dimaksud dalam QS. al-Jumu’ah [62] : 11 yang turun di masa-masa awal hijrah. Maka dari itu vonis sesat untuk shahabat dengan merujuk pada perang Uhud, Hunain, dan peristiwa Jum’at di awal hijrah tidak tepat lagi, karena Allah swt pun sudah menerima taubat Muhajirin, Anshar, dan shahabat lainnya yang ikut perang Tabuk.

Pembatasan taubat dalam ayat di atas pada “orang-orang yang ikut perang Tabuk” perlu diperhatikan karena itu menunjukkan ada di antara penduduk Madinah yang memilih nifaq/munafiq dengan tidak mengikuti perang. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah swt dalam QS. At-Taubah [9] : 101. Jadi maksud ayat ini sama sekali tidak tertuju pada shahabat yang ikut perang Tabuk, melainkan mereka yang munafiq dan tidak ikut perang Tabuk.

Terkait hadits adanya shahabat yang dipisahkan jauh dari Nabi saw di hari kiamat karena murtad, jelas itu bukan shahabat Nabi saw. Yang benar mereka adalah orang-orang munafiq atau yang baru masuk Islam yang kemudian mengganti agamanya, atau mengubah dan menambah-nambah ajaran pokok Islam, sebagaimana diriwayatkan Imam al-Bukhari dalam kitab al-fitan bab ma ja`a fi qaulil-‘Llah wa-ttaqu fitnatan. Para shahabat jelas jauh dari sifat-sifat itu semua. Mustahil para shahabat bersepakat dalam kemurtadan atau pengubahan ajaran pokok Islam. Allah swt sendiri yang memberi jaminannya. Adapun penyebutan Nabi saw: “Itu shahabatku, itu shahabatku,” tidak berarti ada shahabat yang murtad, karena dalam riwayat lain Nabi saw bersabda: “Itu umatku, itu umatku.” Artinya “shahabat” yang Nabi saw sebutkan dalam hadits tersebut bukan shahabat Muhajirin dan Anshar, melainkan shahabat secara bahasa yang maknanya sama dengan umat, yakni pengikut. Jadi bukan ada shahabat Nabi saw yang murtad, melainkan ada pengikut Nabi saw yang murtad.

Hadits Nabi saw tentang akan datangnya suatu masa dimana para shahabat akan saling berselisih dalam harta dan kekuasaan, tidak berarti menggugurkan keadilan shahabat. Hadits itu hanya peringatan secara umum kepada kaum muslimin agar tidak ada saling benci dan memerangi karena urusan duniawi. Dan para shahabat terbukti dalam sejarah menjadi kelompok yang tidak terjerumus ke dalam peringatan Nabi saw tersebut. Kalaupun ada friksi di kalangan mereka yang sampai membawa pada peperangan, motifnya bukan dunia dan kekuasaan, tetapi agama. Dan itu tidak berlangsung selamanya, selalu saja sesudah konflik terjadi ishlah ditempuh, seperti pada peristiwa Jamal dan Shiffin. Untuk tema ini semua riwayat dan hadits harus dibaca secara utuh, jangan sepotong-potong seperti Syi’ah, sehingga menghasilkan kesimpulan yang keliru. Al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fathul-Bari misalnya berhasil membuktikan dalam syarahnya untuk Shahih al-Bukhari kitab al-fitan bahwasanya para shahabat tidak terjerumus pada ancaman Nabi saw di atas.

Terkait sabda Nabi saw tentang larangan menyakiti ‘Ali, itu dikarenakan ‘Ali shahabat, bukan karena ‘Ali khalifah sesudah beliau. Dan itu sama dengan larangan Nabi saw berikut ini:

مَنْ سَبَّ أَصْحَابِي فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Siapa yang mencela shahabatku, maka baginya laknat Allah, malaikat dan manusia seluruhnya.[19]

[1] Jalaluddin Rakhmat dalam Pengantar untuk A. Latief Muchtar, Gerakan Kembali ke Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1998, hlm. liv.
[2] Muhammad ‘Abdil-Karim ibn Abi Bakr Ahmad as-Syahrastani, al-Milal wa an-Nihal. Tahqiq: ‘Abdul-’Aziz Muhammad al-Wakil. Beirut : Dar al-Fikr, t.th., 1 : 146.
[3] Muhammad ibn Jarir at-Thabari, Tarikh al-Umam wal-Muluk, 7 : 180-181
[4] Al-Ushul minal-Kafi no. 341.
[5] Lu`lu`atul-Bahrain, hlm. 387; Rijal an-Najasyi, hlm. 266
[6] Lu`lu`atul-Bahrain, hlm. 395-396
[7] Mukhtashar at-Tuhfah al-Itsna ‘Asyariyyah, hlm. 272-273. Rujukan hadits: Shahih al-Bukhari kitab ahadits al-anbiya bab qaulil-’Llah wat-takhadza Ibrahim khalilan no. 3349, bab wa-dzkur fil-kitab Maryam no. 3447; Shahih Muslim kitab al-jannah wa shifati na’imiha bab fana`id-dunya wa bayanil-hasyr yaumal-qiyamah no. 7380.
[8] Al-Fushulul-Muhimmah fi Ta`lifil-Ummah, hlm. 203
[9] Muqaddimah Mir`atul-‘Uqul fi Syarhi Akhbar Alir-Rasul 1 : 8.
[10] QS. al-Jumu’ah [62] : 11. Penafsiran seperti ini ditemukan dalam kitab-kitab tafsir Syi’ah, yaitu as-Shafi fi Tafsiril-Qur`an 2 : 701, Tafsir al-Qummi 2 : 367, Majma’ul-Bayan karya at-Thabarsi 5 : 287-289.
[11] Penafsiran seperti ini ditemukan dalam kitab-kitab tafsir Syi’ah, yaitu as-Shafi fi Tafsiril-Qur`an 1 : 691, Tafsir al-Qummi 1 : 287, al-Mizan 9 : 226.
[12] Mukhtashar at-Tuhfah al-Itsna ‘Asyariyyah, hlm. 274. Rujukan hadits: Shahih Muslim kitab az-zuhd war-raqa`iq no. 7616.
[13] Al-Mustadrak al-Hakim kitab ma’rifah as-shahabah no. 4596.
[14] Sunan at-Tirmidzi kitab al-iman ‘an Rasulillah bab ma ja’a fi iftiraqi hadzihi al-ummah, no. 2565; Sunan Abi Dawud kitab as-sunnah bab fi luzum as-sunnah no. 4609
[15] QS. at-Taubah [9] : 100.
[16] QS. at-Taubah [9] : 117.
[17] QS. Al-Hasyr [59] : 8-9.
[18] QS. Ali ‘Imran [3] : 110.
[19] Al-Mu’jam al-Kabir at-Thabrani bab hadits ‘Abdullah ibn Abil-Hudzail ‘an Ibn ‘Abbas no. 12541. Hadits shahih li ghairihi (al-Albani dalam as-Silsilah as-Shahihah no. 2340)

(pemudapersatuanislam.blog.com)

Print Friendly
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Share.

Leave A Reply