Jangan Lewatkan Lailatul Qadar

0
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
ilustrasi

ilustrasi

Oleh: Ibnu As-Saubani

persisalamin – Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan ialah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Al-qur’an yang terdiri dari 6326 ayat diturunkan dari lauh mahfudz ke baitul ‘izzah di langit dunia pada malam yang hingga kini dikenal dengan malam kadar atau lailatul qadar. Al-Qur’an menjelaskan bahwa pada malam diturunkannya Al-Qur’an itu merupakan malam yang sangat indah dan kebaikannya melebihi waktu seribu bulan. Hal ini sebagaimana tergambar dalam surat  Al-Qadar seperti berikut,

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada lailatul qadar. Dan tahukah kalian apa lailatul qadar itu?  Lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu para malikat dan Ar-Ruuh (Jibril) turun dengan titah Tuhan mereka untuk berbagai  urusan. Lailatul qadar itu penuh kesejahteraan hingga terbitnya fajar.” (QS. Al-Qadr: 1-5)

Ibnu Kasir di dalam tafsirnya menceritakan, bahwa ada seorang ahli kitab yang ahli  ibadah. Dia melaksanakan salat malam sepanjang malam sampai menjelang shubuh. Esok harinya ia pergi berperang untuk melawan musuh sampai sore hari. Begitu dan begitu orang itu jalani sampai usianya genap delapan puluh tahun.  Rasulullah SAW. dan para sahabat sampai  memujinya karena kagum. Karena peristiwa inilah kemudian Jibril turun membawa surat Al-Qadar, dan menjelaskan bahwa apa yang dilakukan ahli kitab itu belum seberapa jika dibandingkan dengan lailatul qadr yang kebaikannya melebihi waktu seribu bulan. Kekaguman Rasul SAW. dan para sahabat kepada ahli kitab yang ahli ibadah inilah yang  menjadi asbaabun-nuzuul (latar belakang turunnya) surat Al-Qadar ini.

Lailatul qadar merupakan peristiwa yang sangat agung. Malam diturunkannya Al-Qur’an, malam yang penuh dengan berkah dan rahmat Allah SWT., malam ketika para malaikat turun ke langit dunia, malam yang sangat  bersejarah bagi undang-undang yang akan mengatur kehidupan manusia di bumi. Pada malam ini, setiap kebaikan/ibadah yang dikerjakan oleh seorang mukmin pahalanya setara dengan kebaikan yang dilakukan selama lebih dari seribu bulan.  Subhanallah!

Sungguh  kasih sayang Allah pada semua hamba-Nya sangat besar.  Satu ibadah yang dikerjakan pada lailatul qadar dinilai lebih baik dari ibadah yang dikerjakan selama 83 tahun empat bulan. Ini merupakan kesempatan, peluang bagi siapapun untuk memupuk pahala dari Allah SWT. Lailatul qadar harus benar-benar dimanfaatkan untuk memperbanyak ibadah, dengan harapan salah satu  ibadah yang dikerjakan akan bertepatan dengan lailatul qadar.

Lalu, tanggal berapakah lailatul qadar itu? Mengenai kapan/tanggal berapa waktu terjadinya, para ulama bahkan para sahabat rodiyallohu’anhum berbeda pendapat. Ada yang mengatakan bahwa lailatul qadar itu pada tanggal 21 berdasarkan hadis Abu Sa’id Al-Khudriy yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim. Ada yang mengatakan tanggal 23 berdasarkan hadis Abdullah bin Unais yang diriwayatkan Imam Muslim. Ada yang mengatakan tanggal 24 berdasarkan hadis dari Bilal yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.  Ada yang mengatakan tanggal 25 berdasarkan hadis Ibnu Abbas yang diriwayatkan Imam Bukhari. Ada yang mengatakan tanggal 27 seperti yang dikatakan Ubaiy bin Ka’ab yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Ada pula yang berpendapat bahwa lailatul qadar itu pada  tanggal 29 Ramadhan berdasarkan hadis Ubadah bin Shamit yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Yang jelas, para ulama telah sepakat bahwa lailatul qadar itu terjadi pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Lebih tepatnya, malam itu terjadi pada malam-malam yang ganjil. Inilah yang telah disepakati oleh mayoritas para ulama. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa lailatul qadr itu terjadi pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Tidak perlu dipersoalkan mengenai tanggal berapa-nya. Tetapi yang lebih penting dari itu ialah bagaimana memanfaatkan sepuluh hari terakhir itu agar mendapatkan malam yang lebih istimewa dari seribu bulan tersebut.

Sebagai orang mukmin yang taat pada Allah dan rasul-Nya,  melaksanakan ibadah tidak terbatas saat lailatul qadar saja. Tetapi kapan-pun, selama masih hidup dan mampu untuk melaksanakan suatu ibadah, maka saat itulah ibadah tersebut dilaksanakan. Tidak peduli apakah ibadah yang dikerjakan tersebut bertepatan dengan lalilatul qadar atau tidak. Yang jelas, jika ibadah yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan tidak mengenal lelah sepanjang Ramadhan, maka lailatul qadar yang dinanti-nanti oleh setiap mukmin pasti akan diraih. Dengan catatan, selama Ramadhan khususnya pada sepuluh hari terakhir, dimanfaatkan untuk menghidupkan malam-malam terakhir tersebut dengan beribadah sebanyak-banyaknya.

Aisyah ra. Sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim menerangkan kebiasaan Rasululah SAW. apabila memasuki sepuluh terakhir di bulan Ramadhan seperti berikut;

“Adalah Rasulullah SAW. apabila memasuki sepuluh terakhir dari Ramadhan, beliau menghidupkan malam, membangunkan keluarganya dan bersungguh-sungguh serta siap siaga (menghidupkan malam).”

Sangat banyak cara yang dapat dilakukan untuk menghidupkan malam-malam terakhir tersebut. Diantaranya ibadah yang sudah menjadi rutinitas seperti; salat malam/tarawih, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak shodaqoh. Agar lebih hidup, maka amalan tersebut harus ditingkatkan kulalitas maupun kuantitasnya. Membaca Al-Qur’an yang tadinya sebatas dua halaman setiap malam, ditingkatkan menjadi  satu juz permalam. Pun demikian dengan sedekah tidak terbatas hanya mengisi kencleng sekian ribu saja, tetapi ditingkatkan dengan jumlah yang lebih besar. Sesekali membagikan  makanan untuk jama’ah tarawih dan khususnya anak-anak yatim dan kaum dhu’afa.  Jika pada malam-malam sebelumnya bangun malam hanya untuk masak dan makan sahur, kini ditingkatkan bangun lebih awal khusus untuk berdzikir dan memanjatkan do’a kepada Allah SWT.  Jika mampu menghidupkan malam-malam Ramadhan khususnya di sepuluh terakhir, maka yakinlah bahwa lailatul qadar tersebut diraih yang diisi dengan berbagai macam ibadah dengan jumlah yang sangat banyak. Dengan demikian, jatah usia hidup telah digunakan dan penuh dengan nilai  ibadah kepada Allah SWT.

Oleh sebab itu, agar mendapatkan bagian dari lailatul qadar, maka harus menghidupkan malam-malam terakhir untuk memperbanyak ibadah kepada Allah SWT.

Print Friendly
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Share.

Leave A Reply