Dasar Akhwat Baper !!

0
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
ilustrasi

ilustrasi

persisalamin – Baper, siapa sih yang gak kenal istilah ini? Hmm apalagi akhawat pasti sering banget deh denger atau gunain kata yang satu ini dan gak dipungkiri juga bahwa akhawat lah yang paling sering ngerasain ini 😀

Baper [Bawa Perasaan] alias dikit-dikit dibawa perasaan ini adalah sebuah penyakit atau sejenis virus menurutku. Mengapa? Karena jika kita sudah terjangkit virus baper ini, maka dijamin hati kita tidak akan pernah merasa tenang dan akan terus menerus menciptakan ke-galauan sendiri. Jadi buat kita yang dikit-dikit ngerasa galau, jangan terus menerus menyalahkan keadaan apalagi bilang kalau syetan lagi terus-terusan gangguin dan bisikin ke-galau-an di hati kita. Syetan terus yang disalahin. Hmmm intropeksi diri dulu, karena biasanya kita gak sadar, sikap baper kita lah yang bikin kita gampang galau!!

Virus baper ini biasanya menjangkit kita para akhawat yang terlalu sering interaksi dengan lawan jenis. Atau kalo gak mau di bilang kita, ya udah deh saya aja. Saya mungkin terlalu banyak berkhalwat meski di dumay (chat, fb, line, bbm, wa, dsb), dan bukan tak mungkin yang terlalu sering ikhtilat atau kongkow gak jelas sama lawan jenis.

Beberapa hari ini sering sekali mendengar kata baper ini. Sampai-sampai diskusi dengan seorang sahabat. Dan dari hasil diskusi itu sahabat saya mengirimkan sebuah tulisan yang saya kutip di bawah ini:

Baper kadang bikin bingung. Biasanya bikin canggung
Alhasil digantung, sama kesimpulan sendiri yang disambung-sambung

dia yang belum halal mungkin gak ada hal
tapi sedikit dari hati kita suka ngayal

Ah, susahnya menjaga hati
ketika DIA tak menjadi penguasa hati yang sesungguhnya

itulah baper pake hati, yang fitrahnya bolak-balik cepet banget

Yaa Muqallibal Qullub tsabit qalbii ‘alaa to’atik

[Dhea Gishela]

Hmmm tuh kan baper itu bikin hati gak karuan. Bikin kita kebingungan sendiri dan biasanya bikin kita canggung ke orang yang kita baper-in. Dan bukan tak mungkin juga, kita jadi suka menyimpulkan sendiri dan segala halnya disambung-sambungin.

Contohnya liat status atau share-an ikhwan yang kita baper-in. Padahal itu bukan tulisan dia dan sangat mungkin bukan perasaan dia. Semua yang baca biasa aja. Tapi kita? Karena virus baper-nya kita pelihara jadinya GR alias gede rasa deh. Sampe bingung mau like atau engga. Eits kalo ke status ikhwan yang gak ada hubungannya sama ilmu mending ga usah ikut like deh. (note to self :D)

Terus ketika ikhwan itu misalnya baik ke kita, perhatian ke kita. Hulala pasti si akhawat baper bakalan langsung berbunga-bunga. Galau, dilema dan tiba-tiba mikir macem-macem. “jangan-jangan ikhwan itu suka ke aku” dan Jangan-jangan lainnya. Padahal sangat mungkin sekali, si ikhwan itu memang udah akhlaknya baik ke semua orang, bukan hanya ke kita saja. Tapi dasar baper, ya kita jadinya mikir aneh-aneh. Hati-hati yaa ukhti itu suudzhon lho. Orang baik ke kita kok malah dikira suka ke kita? berarti kalo ada pak polisi yang bantuin kita nyebrang dan baik ke kita itu juga kita anggap suka dan dambain kita? hmmm.

Saudariku, ternyata menjaga hati itu memang gak mudah ya. Ketika baper menjangkit dan posisi-Nya sudah bukan yang utama lagi di hati kita :'(

Bagi ikhwan yang membaca tulisan ini, jangan ngerasa menang dan seneng dulu ya. Ini bukan soal menang atau kalah sih. Namun saya hanya ingin mengajak kita semua (termasuk saya) untuk sama-sama merenungkan kembali sikap dan perbuatan kita.

Tidak jarang ada ikhwan yang mengatakan “Dasar akhawat baper” !! tanpa pernah melihat pada dirinya sendiri. Kuharap kalian tak seperti itu saudaraku.

Ya, menurut saya. Ketika ada akhawat yang baper pasti ada ikhwan yang caper dong. Seperti kata pepatah, mustahil ada asap kalau gak ada api dan mustahil ada api, kalau gak ada yang nyulut. Hayoo yang ngerasa ikhwan, yuk kurangin deh caper nya, apalagi ke akhawat, udah tau akhawat itu gampang banget baper. Itu saudari antum lho, harus dijaga ya 🙂

Berbuat baik pada sesama itu bagus, bagus bangeettt. Dan Rasulullah ﷺ pun mengajarkan kita untuk saling membantu dan menyayangi sesama muslim kan? Namun, bagi kita yang masih sama-sama single dan masih sama-sama suka baper harus bisa lebih berhati-hati dalam bersikap. Misalnya buat yang ikhwan perhatian ke teman akhawatnya sekedarnya saja ya, jangan keseringan kirim pesan lewat apapun ke akhawat kalo gak terlalu penting apalagi kalo curhat.

Begitupun dengan yang akhawat temenan sama ikhwannya harus lebih dijaga. Kita hindari deh perhatian-perhatian yang bisa bikin salah faham. Kata-kata yang bikin tanda tanya dan ambigu. Emoticon yang unyu-unyu. Suara yang di lemah lembutkan. Dan curhatan-curhatan yang gak perlu, apalagi ada satu hal yang gak boleh banget kita bahas sama ikhwan yang bukan mahram: pernikahan *kecuali sama ikhwan yang jelas udah ngelamar dan datang ke wali kita ya. Itupun harus tetap berada di batasan yang sewajarnya dan harus ditemani mahram, gak boleh khalwat !!

Yaa Akhawat, saudariku siapapun yang membaca tulisan ini. Ini bukan tulisan sindiran ke siapapun. Ini hanya bentuk catatan untuk pengingat saya pribadi juga. Jika ada yang merasa tersindir, saya mohon maaf 🙂

Teruntuk kita semua yang masih suka baper ke lawan jenis, yuk kurangin bapernya dan tingkatin ‘cuek’ nya. Tetapi cuek di sini bukan berarti gak peduli lagi sama saudara kita ya. Cuek yang saya maksud itu adalah sikap yang gak gampang baper dan GR. Biar hati kita tenang dan gak galau-galau lagi.

Kita jadikan Allah sajalah pemilik hati kita seutuhnya. Kita simpan nama Allah saja lah di hati kita. Dan jangan sampai kita lupa untuk meminta pada-Nya agar hati kita terjaga. Karena hati itu mudah berbolak-balik. Gejolak hati itu bagaikan gejolak air yang mendidih. Semoga Allah merahmati kita semua dan menjaga hati kita serta mengistiqamahkan kita di jalan-Nya.

Rosita Dewiha

[Sumber: reshare from line Dakwah Muslimah/fb One Day One Juz]

Print Friendly
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Share.

Leave A Reply