Catat, Soal Idul Fitri Syarat Persis Hanya Satu

0
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
Kantor PP. Persis

Kantor PP. Persis

persisalamin – Pelaksanaan ibadah harus merujuk pada dalil, agar sesuai dengan tuntunan Allah dan rasul-Nya, sehingga ibadah itu diterima dan berbuah pahala. Persatuan Islam (Persis) sejak dulu sangat apik dan teliti dalam urusan ibadah. Sepanjang tidak ada tuntunan dari agama, apalagi bertentangan dengan agama, Persis tidak akan pernah membenarkan ibadah itu.

Demikian halnya dengan pelaksanaan ibadah shaum Ramadan, harus merujuk pada dalil, termasuk soal memulai dan mengakhiri shaum itu. Dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit, pelaksanaan Idul Fitri tahun ini Persis tetap konsisten pada pendiriannya untuk tetap merujuk pada dalil.

“Barangsiapa yang menyaksikannya maka bershaumlah. Dan barangsiapa yang menyaksikannya, maka berbukalah,” ujar Ketua Umum Persis, M. Abdurrahman mengutip salah satu hadis.

“Yang dimaksud adalah melihat hilal itu,” tambahnya.

Merujuk pada hadis inilah, Persis menetapkan bahwa memulai shaum Ramadan dan mengakhirinya, harus berpatokan pada terlihatnya hilal. Sehingga, dalam menetapkan Idul Fitri, Persis mensyaratkan terlihatnya hilal.

“Hilal itu nur, cahaya bulan, bukan posisi bulan. Setelah fase ijtimak, bulan memantulkan cahaya yang tipis, inilah yang disebut hilal. Inilah patokan awal bulan. Kalau bulan belum menghasilkan cahaya, itu bukan hilal namanya. Dalam bahasa Arab kan ada qamar, hilal, badrun, dan lainnya. Itu punya makna yang berbeda-beda,” papar Ketua Dewan Hisab dan Rukyat (DHR) Persis, Muhammad Iqbal Santoso.

“Kalau wujudul hilal itu kan posisi bulan di atas ufuk, mau kelihatan mau tidak kelihatan. Ini tidak memungkinkan diamati, apalagi posisinya rendah. Sebenarnya posisi ini bukan wujudul hilal, tapi wujudul qamar. Hilal dengan qamar itu berbeda, ” katanya.

Iqbal menambahkan, dalam menentukan awal bulan, Persis menggabungkan dua metode, yaitu hisab dan rukyat. Hisab, kata Iqbal, digunakan untuk menghitung dan memprediksi, sementara rukyat untuk menguji hasil hisab itu.

“Hasil hisab itu kan diuji oleh rukyat. Kita menggunakan Imkanur Rukyah, untuk menguji hasil hisab. Hasil rukyat inilah yang dijadikan patokan awal bulan. Sehingga kepastian awal bulan itu akurat, sesuai dengan petunjuk Nabi,” tegasnya.

Sayangnya, demikian Iqbal, saat rukyat hilal, sering dan banyak orang yang mengaku melihat hilal. Padahal secara hisab tidak mungkin, berdasarkan pengamatan pakar teknologi pun tidak dapat dilihat. Untuk menghindari itu, pihaknya mensyaratkan citra visual, sebagai bukti kebenaran terlihatnya hilal.

Karena itulah, dalam penentuan Idul Fitri tahun ini, Persis dengan tegas menyatakan akan menerima keputusan Sidang Isbat, apabila hasil rukyat itu disertai dengan citra visual.

“Bukan hanya tinggi hilalnya, tapi soal melihat hilalnya, apakah benar terlihat atau tidak, harus dibuktikan dengan citra visual,” kata Abdurrahman saat dihubungi persisalamin.com.

Persis tidak mau mengambil keputusan secara gegabah, terlebih dalam urusan  ibadah. Dalam penentuan Idul Fitri tahun ini, sikap dan keputusan Persis sangat jelas.  Syarat yang diajukan tidak banyak, juga tidak muluk-muluk, tapi hanya satu dan sederhana. Tahukah Anda, apa syarat itu?

Print Friendly
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Share.

Leave A Reply