Bukan Sembarang Tafsir

0
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
ilustrasi

ilustrasi

persisalamin – Tafsir seakan telah menjadi bahasa sehari-hari masyarakat Indonesia. Padahal kata itu berasal dari bahasa Arab. Karena sudah teramat akrab, maknanya pun tak sukar dipahami. Sederhananya tafsir bermakna pengertian, penjelasan, atau makna mendalam. Dan memang demikianlah makna dari kata tafsir. Hampir semakna dengan kata tafsir adalah takwil, yang juga bermakna arti yang mendalam, arti yang tersirat, arti yang tidak mudah dipahami kecuali oleh orang-orang yang memiliki pengetahuan yang luas.

Dalam kahzanah Islam, tafsir menjadi salah satu disiplin ilmu. Pakarnya menjelaskan bahwa tafsir memiliki banyak ragam dari berbagai sisi. Secara garis besar, tafsir ada dua macam; tafisr bil ma’sur dan tafsir bi ra’yi. Yang membedakan diantara keduanya adalah rujukan yang digunakan dalam menafsirkan. Tafsir bil ma’surrujukannya adalah dalil baik Al-Qur’an maupun hadis. Sedangkan tafsir bi ra’yirujukannya adalah logika dan dibantu dengan ilmu pengetahuan yang berdasarkan pada pengalaman.

Baik tafsir bil ma’sur maupun tafsir bi ra’yi, keduanya digunakan untuk memahami dalil-dalil Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan firman Allah, sehingga terkadang ada ayat-ayat yang sulit dipahami oleh orang awam. Untuk membantu orang-orang awam itulah tafsir hadir, agar ajaran Al-Qur’an dapat dipahami dan diamalkan.

Rasulullah SAW adalah orang yang paling memahami kandungan Al-Qur’an seluruhnya. Hal itu karena Rasulullah SAW mendapat pendidikan langsung dari Jibril sebagai delegasi Allah yang bertugas mengajarkan Al-Qur’an kepada Rasulullah. Sehingga tak heran, apapun yang disabdakan oleh Rasulullah SAW., pasti sejalan dengan Al-Qur’an. Sebab, baik Al-Qur’an maupun sabda Nabi SAW., keduanya merupakan wahyu Allah SWT.

Setelah Rasul, yang memahami kandungan Al-Qur’an adalah para sahabat Nabi SAW. Sebagai penerus Rasulullah, para sahabat memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan kandungan Al-Qur’an kepada umat. Hal itu terutama ketika ada persoalan yang tidak dipahami oleh umat terutama di zamannya.

Jika Rasulullah menafsirkan Al-Qur’an dengan petunjuk dari Jibril, maka para sahabat menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan petunjuk dari Nabi SAW. Kini, sepeninggal Nabi dan para sahabatnya, umat Islam menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an dan hadis Rasulullah SAW. Ketika ada ayat yang agak sulit dipahami oleh orang awam, para ulama membantu mereka dengan menafsirkan ayat itu. Dalam menafsirkannya itu, mereka merujuk pada ayat-ayat yang lain, dan dibantu dengan hadis-hadis Rasulullah SAW.

Kini jumlah umat Islam semakin banyak, masalah yang dihadapinya pun semakin kompleks. Untuk menghadapi masalah itu, umat Islam butuh tuntunan, yaitu Al-Qur’an. Akan tetapi tidak semua orang dapat memahami Al-Qur’an, sehingga para ulama menjembataninya dengan tafsir. Tanpa tafsir yang dihasilkan para ulama, maka Al-Qur’an tidak akan diapahami apalagi diamalkan. Karenanya tafsir Al-Qur’an sangat dibutuhkan, terutama untuk mereka yang kesulitan memahaminya.

Meski demikian, Al-Qur’an tidak bisa ditafsirkan secara sembarangan. Dibutuhkan keterampilan khusus agar dapat menafsirkan Al-Qur’an secara benar. Ilmu bahasa Arab, ilmu usul, ilmu fikih, ilmu hadis, asbaabunnuzul, ilmu sejarah, dan lain sebagainya harus dikuasai oleh siapapun yang hendak menafsirkan Al-Qur’an.

Adalah Abdullah bin Abbas atau yang lebih dikenal dengan Ibnu Abbas, salah satu sahabat Nabi yang diberikan kelebihan oleh Allah SWT dalam menafsirkan Al-Qur’an. Suatu kali saat Ibnu Abbas masih belia, Rasulullah SAW mendo’akan agar Ibnu Abbas dipahamkan dalam agama. Do’a Rasul itu dikabulkan oleh Allah SWT. Di kemudian hari, Ibnu Abbas menjadi pakar tafsir. Beliaulah orang pertama yang menghasilkan karya ilmiah dalam bidang tafsir.

Jadi, tafsir merupakan bagian dari kekayaan ajaran Islam. Adalah kebodohan yang teramat bodoh, apabila ada orang yang mengatakan bahwa hanya Allah yang dapat memahami Al-Qur’an, sedangkan manusia tidak dapat memahaminya sedikitpun. Juga kebodohan yang teramat bodoh, apabila ada orang yang mengatakan bahwa manusia tidak memiliki hak untuk menafsirkan Al-Qur’an.

Kalau manusia tidak berhak menafsirkan Al-Qur’an, lalu bagaimana mungkin manusia dapat memahami Al-Qur’an? Kalau manusia tidak memahami Al-Qur’an, lalu bagaimana mungkin manusia dapat mengamalkan ajaran Al-Qur’an? Kalau Al-Qur’an tidak dapat diamalkan, lalu untuk apa Al-Qur’an diturunkan?

Print Friendly
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Share.

Leave A Reply