Bukan Membuat Bubur Syuro, Tapi Melaksanakan Saum Asyuro

0
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
ilustrasi

ilustrasi

persisalamin – Dalam penanggalan Islam yang juga dikenal dengan kalender hijriyah, Muharram merupakan bulan pertama dari 12 bulan dalam setahun. Bulan ini termasuk bulan yang diharamkan bagi umat Islam untuk melakukan peperangan dengan alasan apapun. Dalam salah satu hadis sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda;

Sesungguhnya zaman ini telah berjalan (berputar) sebagaimana perjalanan awalnya ketika Allah menciptakan langit dan bumi, yang mana satu tahun itu ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram, tiga bulan yang (letaknya) berurutan, yaitu Zulqa’dah, Zulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab yang berada diantara Jumadi Akhir dan Sya’ban.” (HR.Bukhari)

Dalam tradisi masyarakat terutama nusantara, bulan Muharram pun termasuk bulan yang dikeramatkan, terutama tanggal 10 Muharram. Entah merujuk ke mana, masayarakat nusantara menjadikan tanggal 10 Muharram sebagai hari yang istimewa. Salah satu bentuk mengistimewakannya itu, mereka membuat bubur yang dikenal dengan bubur syuro. Bubur syuro adalah makanan olahan yang terdiri dari biji-bijian yang beragam. Bubur tersebut kemudian dibagikan kerabat atau tetangga dekat.

Dari penghormatannya terhadap tanggal 10 Muharram ada kesamaan dengan ajaran Islam. tetapi dari caranya yang sangat berbeda. Dalam Islam, yang diajarkan untuk mengistimewakan bulan Muharram adalah dengan melaksanaan saum pada tanggal 9 dan 10. Saum tersebut kemudian dikenal dengan nama saum tasu’a dan asyura, yang masing-masing secara harfiah bermakna sembilan dan sepuluh.

Jadi, dalam Islam mengistimewakan tanggal 10 Muharram bukan dengan membuat bubur yang terdiri dari bermacam biji-bijian. Akan tetapi dengan melaksanakan saum sunah. Hal itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW untuk umatnya, untuk umat Islam agar dijadikan teladan dalam mengistimewakan bulan Muharram.

Dalam praktiknya, saum sunah pada bulan Muharram yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW hanya pada tanggal 10 saja. Akan tetapi, para sahabat kemudian menyampaikan kepada Rasulullah SAW bahwa orang-orang Yahudi pun melaksanakan saum pada hari yang sama. Karena itulah Rasulullah menyatakan, bahwa mulai tahun berikutnya beliau akan melaksanakan saum pada bulan Muharram tanggal 9 dan 10. Hanya saja, pada tahun berikutnya beliau tidak sampai pada bulan Muharram karena Allah lebih dulu memanggilnya. Meski tidak sempat dilaksanakan Rasulullah, saum pada tanggal 9 Muharram bagi umatnya termasuk sunah. Inilah yang kemudian oleh para ulama disebut sunah hammiyah.

Mengenai saum ini, terdapat hadis sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim sebagai berikut;

Ketika beliau saum asyura dan beliau memerinahkan para sahabat untuk saum, mereka berkata, ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya itu merupakan hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani. Lalu beliau menjawab, “ tahun depan in syaa Allah kita akan saum juga pada hari yang ke sembilan.” Akan tetapi Rasulullah SAW wafat sebelum sampai pada tahun berikutnya.

Sementara dalam riwayat Muslim diriwayatkan seperti berikut:

Dari bu Musa ra. Berkata, Ketika Nabi SAW tiba di Madinah, orang-orang Yahudi mengagungkan hari asyura dengan melaksanakan saum. Lalu Nabi SAW bersabda; “Kita lebih berhak untuk saum. Lantas beliau memerintahkan  untuk saum pada hari asyura.

Print Friendly
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Share.

Leave A Reply