Ahok dan Revolusi

0
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
Ahok

Ahok

Usaha rakyat Indonesia menuntut keadilan; ditegakkannya hukum atas penistaan terhadap Islam yang dilakukan Ahok telah dilakukan secara maksimal. Tuntutan yang dilakukan dalam bentuk aksi damai telah digelar sebanyak 3 kali. Terakhir, aksi yang dinamai aksi super damai yang juga dikenal dengan nama aksi 212 diikuti lebih dari 7 juta jiwa.

Kini, rakyat Indonesia tengah menunggu sikap para penegak hukum. Tersangka penistaan terhadap Islam, Ahok akan mulai disidang pada Selasa 13 Desember. Sangat diharapkan, para penegak hukum dapat menjalankan fungsi dan tugasnya dengan baik dan profesional.

Berkaca pada sejarah, siapapun yang terbukti melakukan pelanggaran terhadap pasal 156a KUHP, diganjar dengan hukuman yang sesuai. Arswendo Atmowiloto, Lia Eden, dan Musaddek adalah diantara contoh pelaku penistaan terhadap agama dan mendapat ganjaran sesuai hukum yang berlaku.

Kini, Ahok tengah dihadapkan pada kasus serupa, dan sudah sepantasnya mendapat perlakuan serupa. Sebagai negara hukum, Indonesia tidak boleh tebang pilih terhadap pelaku pelanggaran terhadap undang-undang. Dengan alasan apapun, di depan hukum Ahok tidak boleh diistimewakan.

Jika penegak hukum main mata dengan pihak-pihak tertentu yang ingin melepaskan Ahok dari jeratan hukum sehingga Ahok dinyatakan bebas, maka resikonya terlalu besar.

Rakyat sejauh ini menunjukkan sikap kenegarawanannya, juga menunjukkan sebagai bangsa yang bijak dan taat hukum, demi menjaga kebhinekaan dan keutuhan NKRI. Namun jika sikap itu dimanfaatkan apalagi dijadikan bahan permainan, maka bukan tidak mungkin, rakyat akan menarik mandat mereka dari para penegak hukum, lalu menyerahkannya kepada mereka yang dapat dipercaya dan bertanggungjawab.

Adalah revolusi, salah satu alternatif yang dapat dilakukan rakyat jika hukum tak kunjung ditegakkan. Bukankah sudah didengar publik, jika Ahok bebas dari jeratan hukum pada sidang nanti, maka rakyat benar-benar akan bergerak.

Penimpin pergerakan rakyat saat ini, Habib Rizieq sudah menyatakan dengan tegas siap memimpin revolusi. Demikian juga Din Syamsuddin, Ketua Dewan Pertimbangan MUI, menyatakan akan memimpin perlawanan.

Karenanya, para penegak hukum harus jeli membaca situasi. Demikian pula para pemegang kekuasaan, harus cerdas menyikapi masalah yang sedang membelit. Jangan sampai, dengan alasan pragmatis, negara mengorbankan wibawa, juga mengorbankan rakyat.

Bagaimanapun, kepentingan bangsa harus diletakkan di atas kepentingan lain, termasuk kepentingan politik dan kelompok tertentu. Apalagi terhadap kepentingan asing dan aseng, negara harus sungguh-sungguh membela dan mengedepankan kepeningan bangsa. Jika tidak, maka kasus Ahok akan berakhir dengan revolusi.

Print Friendly
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Share.

Leave A Reply