Jika Kau Jatuh Cinta

0
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
ilustrasi

ilustrasi

Oleh: Shuhaib Shafiyurrahman

persisalamin – Kita sering mendengar orang-orang berkata bahwa cinta itu buta, tidak melihat, tak pandang bulu. Siapa saja bisa mencintai siapapun sekalipun akal kita mungkin mengingkari, begitupun agama melarangnya. Tapi jika cinta sudah mengakar kuat akal menjadi tumpul dan hati menjadi buta. Ujung-ujungnya siapa saja yang sudah terkena panah asmara maka racunnya sulit diangkat dan perlu waktu yang tidak sedikit untuk bisa sembuh seperti sedia kala. Bahkan mungkin ada yang seumur hidupnya menderita karena cinta.

Benarlah apa yang dikata penya’ir,

لَيْسَ فِي الْحُبِّ مَشُوْرَةٌ

Tidak ada tawar menawar dalam cinta.

Pernahkah kita mendengar kisah Zulaikha istri Al-Aziz, pembesar mesir yang jatuh cinta pada seorang budak bernama Yusuf. Saking cintanya dia merendahkan statusnya sendiri sebagai majikan. Bukan tidak mungkin hal itu terjadi menimpa kita, jangan dikira kalau kita tidak akan terkena hal tersebut.

Senada dengan itu, Ibnu Qayyim Aljauziyah telah mengurai masalah ini dalam kitab beliau  AlJawabul Kafi. Diantara faidah yang beliau jelaskan adalah diantara penyakit hati yang akan menimpa orang awam dan alim adalah penyakit Isyq. Isyq itu maknanya adalah asmara. Bisa jadi seseorang terjebak dalam sebuah cinta yang keliru yang semestinya tidak terjadi cinta namun karena kejahilan dan kelemahan  kita, terjadilah cinta itu. Mengaggumi dan merindukan namun pada orang yang tidak tepat. Cepat atau lambat ia akan terkena kepedihan yang dalam. Ia menderita sakit namun dia tidak tahu entah apa obatnya.

Maka hendaknya kita berhati-hati dengan cinta yang memang tidak ada kata tawar menawar dalamnya. Begitu datang langsung membutakan mata hati. Tak peduli apa dan siapa yang dicinta. Semoga kita tidak termasuk dengan apa yang Allah SWT gambarkan dalam Al-Quran.

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادٗا يُحِبُّونَهُمۡ كَحُبِّ ٱللَّهِۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَشَدُّ حُبّٗا لِّلَّهِۗ وَلَوۡ يَرَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓاْ إِذۡ يَرَوۡنَ ٱلۡعَذَابَ أَنَّ ٱلۡقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعٗا وَأَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعَذَابِ ١٦٥

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu[106] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

Dalam istilah para ulama, penyakit mabuk cinta ini disebut dengan isyq.  Ayat yang mulia di atas menggambarkan keadaan orang kafir yang menjadikan andad (yakni mahluk). Mereka mecintainya sebagaimana orang beriman mencintai Allah. Bukankah ini adalah kecintaan yang salah? Jika orang kafir yang melakukannya sangat wajar karena mereka memang kafir pada Allah. Namun bagaimana jadinya jika orang beriman  yang tertimpa penyakit isyq? Mencintai sesama mahluk dengan kecintaan yang terlalu besar, sampai- sampai kedudukan Allah pun disamakan dengan makhluk.

Juga dalam ayat diatas terdapat obat dari penyakit  mabuk cinta (isyq) yaitu kembali mentauhidkan Allah ta’ala. Mencitai, menghamba, memurnikan penghambaan dan kecintaan hanya kepada Allah SWT.  Bahkan semestinya orang beriman lebih mencintai Allah SWT di atas kecintaanya pada siapapun.

Print Friendly
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Share.

Leave A Reply